Skip to content

Uneg uneg

blog orang indonesia di jepang

Menu
  • About
  • Categories
    • Lifestyle
    • Travel
  • Privacy Policy
  • Contact
Menu

Hal-Hal Aneh yang Baru Aku Sadari Setelah Lama Tinggal di Jepang

Posted on June 17, 2026June 30, 2026 by minikurage

Waktu pertama kali datang ke Jepang, rasanya semua hal terlihat sempurna. Jalanan bersih, orang-orang sopan, kereta selalu tepat waktu. Aku pikir sudah paham betul seperti apa kehidupan di sini.

Tapi ternyata aku salah.

Ada banyak hal kecil yang baru benar-benar aku sadari setelah tinggal beberapa bulan, bahkan beberapa tahun. Hal-hal yang tidak pernah diceritakan di video travel YouTube atau artikel wisata manapun. Hal-hal yang kalau kamu tanya orang Jepang sendiri, mereka malah bingung kenapa itu terasa aneh bagimu — karena bagi mereka, itu sudah sangat normal.

Ini bukan daftar keluhan. Ini lebih ke catatan jujur dari seseorang yang sudah cukup lama tinggal di sini untuk mulai melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh turis.


1. Orang Jepang Tidak Saling Sapa di Lift

Di Indonesia, masuk lift bareng orang asing itu biasa diisi dengan senyum kecil, atau setidaknya basa-basi soal lantai berapa. Di Jepang? Semua orang langsung menatap pintu lift seolah pintu itu punya sesuatu yang sangat menarik untuk dilihat.

Awalnya aku kira mereka tidak suka aku. Aku mulai mempertanyakan diri sendiri — apa yang salah? Apakah penampilanku aneh? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?

Tapi lama-lama aku sadar, ini memang norma sosialnya. Ruang pribadi itu serius di sini. Diam bukan berarti tidak ramah — diam justru adalah bentuk menghormati. Mereka tidak mau memaksa percakapan yang tidak diinginkan, dan itu sebenarnya sangat thoughtful kalau dipikir-pikir.

Sekarang aku pun sudah terbiasa menatap pintu lift. Kalau pulang ke Indonesia dan ada orang yang tiba-tiba mengajak ngobrol di lift, aku malah yang kaget.


2. Suara Toko Lebih Berisik dari Pasar Malam

Ini yang paling mengejutkan di awal. Kamu masuk ke minimarket atau toko pakaian, dan langsung disambut teriakan selamat datang dari semua pegawai secara bersamaan.

“Irasshaimase!”

Pertama kali, aku sampai menoleh ke belakang mengira ada artis yang masuk. Ternyata itu standar untuk semua orang. Setiap tamu masuk, semua pegawai berteriak — tidak peduli mereka sedang menghadap ke mana, tidak peduli mereka sedang sibuk melipat baju atau menghitung kasir.

Anehnya, lama-lama terasa nyaman. Sekarang kalau masuk toko yang tidak ada suaranya, malah terasa ada yang kurang. Seperti ada kehangatan yang hilang.

Yang lebih unik lagi: mereka tidak akan memaksamu untuk dilayani. Setelah sapaan itu, mereka kembali ke urusan masing-masing. Tidak ada yang mengikuti atau bertanya “Mau cari apa?”. Kamu bebas berkeliling dengan tenang. Itu kombinasi yang aku suka — disambut hangat, tapi tidak diganggu.


3. Antrian Adalah Seni

Di Jepang, antri itu bukan sekadar berdiri di belakang orang lain. Ada garisnya, ada tandanya, ada sistemnya. Bahkan di halte bus yang tidak ramai pun, orang-orang akan berdiri di posisi yang benar sesuai tanda di lantai.

Yang paling bikin aku takjub adalah antrian di eskalator. Di Tokyo, orang berdiri di sebelah kiri dan mengosongkan kanan untuk yang terburu-buru. Di Osaka kebalikannya — berdiri di kanan, kosongkan kiri. Dan semua orang tahu aturan ini tanpa ada yang perlu menjelaskan. Tidak ada papan pengumuman besar, tidak ada petugas yang mengarahkan. Semua sudah terinternalisasi.

Satu kali aku salah berdiri di sisi yang salah di Osaka. Orang-orang tidak marah, tidak menegur dengan kasar — tapi ada tatapan halus yang membuat aku langsung pindah. Tatapan yang bilang “kamu berdiri di tempat yang salah” tanpa satu kata pun diucapkan.

Di kereta pun sama. Orang antri di tanda kaki yang sudah tergambar di peron. Begitu pintu terbuka, mereka berdiri di kedua sisi dan membiarkan penumpang yang turun keluar lebih dulu. Tidak ada desak-desakan. Sistemnya berjalan seperti jam.


4. Tidak Ada Tempat Sampah, Tapi Jalanan Tetap Bersih

Ini benar-benar membingungkan aku di awal. Jalan-jalan seharian tapi tidak menemukan satu tempat sampah pun. Bungkus onigiri sudah di tangan sejak dari konbini, dan aku terus berjalan sambil menatap sekitar — tidak ada tempat buang sampah.

Tapi jalanan bersih. Tidak ada sampah berserakan.

Jawabannya sederhana: orang Jepang membawa sampahnya pulang. Mereka simpan di tas, bawa ke rumah, lalu buang sesuai kategori. Dan sistem pemilahan sampah di sini bisa bikin pusing kepala kalau belum terbiasa.

Ada sampah yang hanya boleh dibuang di hari tertentu — plastik hari Senin, kardus hari Rabu, sampah umum hari Selasa dan Jumat. Kategorinya bisa sampai 5–6 jenis tergantung kota. Kalau salah hari atau salah kategori, sampahmu tidak akan diangkut. Akan ada stiker warna kuning ditempelkan di kantongmu sebagai tanda bahwa sampah itu ditolak.

Awalnya terasa sangat ketat dan ribet. Tapi sekarang aku mengerti kenapa kotanya bersih.


5. Pekerja Keras, Tapi Jam Istirahat Siang Itu Sakral

Orang Jepang dikenal workaholic. Kerja lembur sudah jadi budaya, dan ada istilah karoshi — meninggal karena terlalu banyak kerja — yang sayangnya bukan mitos.

Tapi satu hal yang aku perhatikan: jam makan siang itu tidak main-main.

Tepat jam 12, semua orang beranjak. Tidak ada yang makan sambil kerja di meja — itu justru dianggap tidak sehat dan tidak profesional di banyak kantor. Ada yang ke kantin, ada yang ke konbini depan kantor, ada yang jalan kaki ke restoran kecil di sudut gang. Dan semua kembali tepat sebelum jam 1.

Aku sempat kagum melihat deretan salaryman berjas antri di ramen shop kecil jam 12 lewat 5 menit. Mereka makan cepat, tapi tidak terburu-buru kelihatannya. Sudah terlatih.


6. Uang Tunai Masih Raja

Di era digital ini, aku kira semua negara maju sudah penuh dengan pembayaran digital. Ternyata Jepang pengecualiannya — setidaknya sampai beberapa tahun belakangan.

Banyak restoran kecil, toko tradisional, bahkan beberapa klinik dokter yang hanya menerima uang tunai. Tidak ada kartu, tidak ada QRIS versi Jepang, tidak ada e-wallet.

Aku pernah makan di tempat yang enak banget, sudah siap bayar pakai kartu, dan kasir dengan sopan menunjukkan tulisan kecil di sudut meja: 現金のみ (genkin no mi) — hanya tunai. Untungnya ada ATM konbini tidak jauh dari situ.

Sekarang ke mana pun aku selalu bawa uang tunai. Kebiasaan baru yang tidak pernah aku bayangkan perlu kulakukan di negara seprogresif ini.


7. Permohonan Maaf untuk Segalanya

Orang Jepang minta maaf sangat sering. Sumimasen (permisi/maaf) diucapkan saat memanggil pelayan, saat tidak sengaja berpapasan di lorong, saat seseorang mau lewat di depanmu, bahkan saat seseorang ingin memulai percakapan.

Moushiwake gozaimasen — maaf yang lebih formal — terdengar saat ada keterlambatan kereta satu menit pun. Petugas stasiun benar-benar mengumumkan permintaan maaf dengan penuh hormat untuk keterlambatan 60 detik.

Bagi orang Indonesia, ini terasa berlebihan. Tapi lama-lama aku mengerti bahwa ini bukan tanda kelemahan — ini tanda betapa tingginya standar pelayanan dan tanggung jawab yang mereka pegang.


8. Keheningan di Transportasi Umum

Di kereta atau bus, semua orang diam. Tidak ada yang menelepon. Tidak ada yang bicara keras. Bahkan notifikasi HP pun biasanya dibuat senyap.

Pertama kali naik kereta Tokyo, aku hampir berbisik ke temanku karena suasananya sekhidmat itu. Seperti perpustakaan yang bergerak.

Aturan tidak tertulisnya jelas: kereta adalah ruang bersama, dan kamu tidak boleh mengganggu orang lain. Kalau mau bicara di telepon, turun dulu atau tunggu sampai sampai.

Aku suka ini. Pulang kerja yang capek terasa lebih tenang karena tidak ada kebisingan tambahan.


Tinggal di Jepang mengajarkan aku bahwa “aneh” itu relatif. Yang awalnya terasa asing, lama-lama jadi kebiasaan. Dan yang dulu aku anggap normal di Indonesia, sekarang justru terasa berbeda kalau aku pulang ke sana.

Aku tidak bisa bilang mana yang lebih baik — Indonesia atau Jepang. Keduanya punya caranya masing-masing. Tapi ada hal-hal dari Jepang yang pelan-pelan mengubah cara aku melihat dan menjalani hidup sehari-hari.

Mungkin ini yang namanya jadi sedikit “terjepangkan” tanpa sadar.

Kalau kamu pernah tinggal atau pergi ke Jepang, hal apa yang paling bikin kamu kaget? Tulis di komentar ya, penasaran pengalaman kalian!aran pengalaman kalian.

Category: Lifestyle

Welcome to Minikurage!

  • Blog
  • Lifestyle
  • Travel
  • Hal-Hal Aneh yang Baru Aku Sadari Setelah Lama Tinggal di Jepang
  • Tentang INFJ
  • Biaya Hidup di Jepang
  • Cara Menghemat Biaya Hidup di Jepang
  • Realita Tinggal di Jepang
© 2026 Uneg uneg | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme