Waktu pertama kali datang ke Jepang, rasanya semua hal terlihat sempurna. Jalanan bersih, orang-orang sopan, kereta selalu tepat waktu. Aku pikir sudah paham betul seperti apa kehidupan di sini.
Tapi ternyata aku salah.
Ada banyak hal kecil yang baru benar-benar aku sadari setelah tinggal beberapa bulan, bahkan beberapa tahun. Hal-hal yang tidak pernah diceritakan di video travel YouTube atau artikel wisata manapun. Hal-hal yang kalau kamu tanya orang Jepang sendiri, mereka malah bingung kenapa itu terasa aneh bagimu.
Orang Jepang tidak saling sapa di lift
Di Indonesia, masuk lift bareng orang asing itu biasa diisi dengan senyum kecil, atau setidaknya basa-basi soal lantai berapa. Di Jepang? Semua orang langsung menatap pintu lift seolah pintu itu punya sesuatu yang sangat menarik untuk dilihat.
Awalnya aku kira mereka tidak suka aku. Tapi lama-lama aku sadar, ini memang norma sosialnya. Ruang pribadi itu serius di sini. Diam bukan berarti tidak ramah, diam justru adalah bentuk menghormati.
Suara toko lebih berisik dari pasar malam
Ini yang paling mengejutkan. Kamu masuk ke minimarket atau toko pakaian, dan langsung disambut teriakan selamat datang dari semua pegawai secara bersamaan. “Irasshaimase!”
Pertama kali, aku sampai menoleh ke belakang kira-kira ada apa. Ternyata itu standard. Setiap tamu masuk, semua pegawai berteriak. Anehnya, lama-lama terasa nyaman. Sekarang kalau masuk toko yang tidak ada suaranya, malah terasa ada yang kurang.
Antrian adalah seni
Di Jepang, antri itu bukan sekadar berdiri di belakang orang lain. Ada garisnya, ada tandanya, ada sistemnya. Bahkan di halte bus yang tidak ramai pun, orang-orang akan berdiri di posisi yang benar sesuai tanda di lantai.
Yang paling bikin aku takjub adalah antrian di eskalator. Di Tokyo, orang berdiri di sebelah kiri dan mengosongkan kanan untuk yang terburu-buru. Di Osaka kebalikannya. Dan semua orang tahu aturan ini tanpa ada yang perlu menjelaskan.
Tidak ada tempat sampah, tapi jalanan tetap bersih
Ini benar-benar membingungkan aku di awal. Jalan-jalan tapi tidak menemukan satu tempat sampah pun. Tapi jalanan bersih. Tidak ada sampah berserakan.
Jawabannya sederhana: orang Jepang membawa sampahnya pulang. Mereka simpan di tas, bawa ke rumah, lalu buang sesuai kategori. Sistem pemilahan sampah di sini bisa bikin pusing kepala kalau belum terbiasa, ada sampah yang hanya boleh dibuang di hari tertentu, dan kategorinya bisa sampai 5–6 jenis.
Pekerja keras, tapi jam istirahat siang itu sakral
Orang Jepang dikenal workaholic. Tapi satu hal yang aku perhatikan: jam makan siang itu tidak main-main. Tepat jam 12, semua orang beranjak. Tidak ada yang makan sambil kerja di meja, itu justru dianggap tidak sehat dan tidak profesional di banyak kantor.
Ada yang ke kantin, ada yang ke konbini depan kantor, ada yang jalan kaki ke restoran kecil di sudut gang. Dan semua kembali tepat sebelum jam 1. Teratur sekali.
Tinggal di Jepang mengajarkan aku bahwa “aneh” itu relatif. Yang awalnya terasa asing, lama-lama jadi kebiasaan. Dan yang dulu aku anggap normal di Indonesia, sekarang justru terasa berbeda kalau aku pulang ke sana.
Mungkin ini yang namanya jadi sedikit “terjepangkan” tanpa sadar.
Kalau kamu pernah tinggal atau pergi ke Jepang, hal apa yang paling bikin kamu kaget? Tulis di komentar ya, penasaran pengalaman kalian.
