Skip to content

Uneg uneg

blog orang indonesia di jepang

Menu
  • About
  • Categories
    • Lifestyle
    • Travel
  • Privacy Policy
  • Contact
Menu

Musim panas pertama di Jepang

Posted on July 7, 2026June 30, 2026 by minikurage

Musim Panas Pertamaku di Jepang: Antara Panas yang Menyiksa dan Keindahan Festival yang Tak Tertandingi

Kalau ditanya musim mana yang paling bikin aku “kaget budaya” di Jepang, jawabannya bukan musim dingin. Justru musim panas.

Aku pikir sebagai orang Indonesia, panas itu sudah makanan sehari-hari. Aku tumbuh di negara tropis, biasa dengan terik matahari, biasa berkeringat. Jadi waktu orang-orang memperingatkan “musim panas Jepang itu berat,” aku cuma senyum dalam hati. Aku pikir, “ah, paling sama aja kayak di Indonesia.”

Ternyata aku salah besar. Dan di sisi lain, musim panas juga membawaku ke beberapa momen paling indah yang aku alami sejak pindah ke Jepang. Jadi izinkan aku cerita dua sisi dari musim panas pertamaku — sisi yang menyiksa, dan sisi yang membuatku jatuh cinta sama negara ini lebih dalam.


Panas yang Berbeda dari yang Aku Bayangkan

Bulan Juli datang, dan aku ingat keluar dari apartemen pagi-pagi untuk berangkat kerja. Begitu pintu terbuka, rasanya seperti masuk sauna berjalan. Bukan cuma panas — tapi lembap yang menempel di kulit, bikin baju basah keringat hanya dalam lima menit jalan ke stasiun.

Yang membuat ini berbeda dari panas Indonesia adalah kombinasi suhu tinggi dengan kelembapan ekstrem, ditambah tidak ada angin laut yang biasa menyejukkan suasana seperti di kota-kota pesisir Indonesia. Suhu bisa mencapai 35–38 derajat Celcius, dan dengan kelembapan di atas 80%, rasanya seperti terus-terusan dibungkus handuk basah panas.

Aku juga baru tahu istilah mushi atsui (蒸し暑い) — panas yang lembap dan menyengat, berbeda dari atsui biasa yang lebih merujuk ke panas kering. Orang Jepang sendiri benar-benar membedakan dua jenis panas ini karena efeknya ke tubuh memang sangat berbeda.

Dan satu hal yang bikin aku tertawa sekaligus kagum: berita cuaca di TV Jepang serius banget membahas risiko heatstroke setiap hari di musim panas. Bukan cuma “hari ini panas,” tapi sampai level peringatan resmi neppa keikai (waspada gelombang panas) yang disiarkan seperti peringatan bencana.


Kuliah Singkat Soal Kenapa AC Itu Wajib, Bukan Opsional

Di bulan-bulan awal aku pindah, aku sempat pelit menyalakan AC karena khawatir tagihan listrik. Aku pikir, toh aku sudah biasa hidup tanpa AC sepanjang hari di Indonesia, kenapa harus berbeda di sini?

Ternyata ini keputusan yang hampir bikin aku sakit. Suatu sore, aku pulang kerja dan merasa pusing luar biasa, badan lemas, dan jantung berdebar kencang. Aku panik dan langsung minum air sebanyak-banyaknya sambil duduk di lantai. Setelah cerita ke rekan kantor, mereka bilang itu gejala awal heatstroke ringan — dan itu serius, bisa berbahaya kalau dibiarkan.

Sejak itu aku belajar: di Jepang, jangan coba-coba menahan diri dari AC demi hemat listrik di musim panas. Risikonya bukan cuma tidak nyaman, tapi bisa benar-benar mengancam kesehatan. Pemerintah Jepang sendiri rutin mengeluarkan himbauan untuk tetap menyalakan AC, terutama untuk lansia yang sering jadi korban heatstroke di rumah karena enggan memakai AC.

Tips yang aku pelajari setelah insiden itu: set suhu AC di angka wajar, sekitar 26–28 derajat, cukup untuk menurunkan suhu ruangan tanpa bikin tagihan melonjak gila-gilaan. Selalu sedia air minum di rumah dan di tas. Dan kalau keluar siang hari, jangan ragu pakai topi, payung lipat (ya, orang Jepang juga pakai payung buat menghindari matahari, bukan cuma hujan), dan kain pendingin leher yang dijual di mana-mana saat musim panas.


Produk Musim Panas yang Bikin Aku Mikir “Kok Bisa Sekreatif Ini”

Satu hal yang aku suka dari Jepang adalah betapa seriusnya mereka menghadapi tantangan musiman dengan inovasi produk.

Ada kalung pendingin (cooling neck wrap) yang kalau dimasukkan air, bisa terasa dingin selama berjam-jam tanpa perlu listrik. Ada spray pendingin badan yang dijual di mana-mana, dari konbini sampai drugstore, dengan sensasi dingin instan begitu disemprotkan ke kulit. Ada kain handuk khusus yang disebut hiyajumi taoru yang kalau dibasahi dan diperas, tetap terasa dingin meski dipakai berjam-jam karena bahan khususnya.

Bahkan ada payung khusus yang permukaan dalamnya dilapisi UV protection, dijual terpisah dari payung hujan biasa. Awalnya aku pikir buang-buang uang, tapi setelah beli satu dan coba pakai, bedanya memang terasa — badan jauh lebih sejuk dibanding jalan tanpa pelindung apapun.


Matsuri: Festival yang Bikin Aku Lupa Sama Panasnya

Tapi semua kesulitan itu rasanya terbayar lunas begitu musim festival (matsuri) dimulai.

Aku ingat pertama kali diajak teman ke matsuri lokal di dekat rumahku. Begitu turun dari stasiun, suasananya sudah berubah total — jalan-jalan dipenuhi orang memakai yukata (kimono musim panas yang lebih tipis dan kasual), suara taiko (drum tradisional) menggema dari kejauhan, dan bau makanan dari deretan yatai (kios makanan pinggir jalan) memenuhi udara.

Aku coba berbagai makanan khas matsuri yang sebelumnya hanya aku lihat di anime atau drama: takoyaki panas yang baru digoreng, yakisoba dengan bau gurih yang menggoda dari jauh, kakigori (es serut dengan sirup warna-warni) yang jadi penyelamat di tengah panas, dan ringo ame (apel yang dilapisi gula merah mengkilat) yang ternyata manisnya luar biasa tapi tetap aku habiskan.

Yang paling aku suka adalah permainan tradisional seperti kingyo sukui (menangkap ikan mas dengan jaring kertas tipis) dan yo-yo tsuri (menangkap balon air dengan kail kecil). Sederhana, tapi suasananya yang membuat semuanya terasa magical — anak-anak tertawa, orang dewasa ikut antusias, dan semua orang seperti kembali jadi anak kecil untuk sehari.


Hanabi Taikai: Festival Kembang Api yang Bikin Aku Menangis Tanpa Alasan Jelas

Kalau ada satu pengalaman dari musim panas pertama yang paling aku ingat sampai sekarang, itu adalah hanabi taikai — festival kembang api besar.

Aku pergi ke salah satu hanabi taikai terkenal di dekat sungai bersama beberapa teman. Kami datang sore-sore, sudah membawa tikar untuk duduk di pinggir sungai, beli makanan dari yatai, dan menunggu sambil ngobrol santai sampai langit mulai gelap.

Begitu kembang api pertama meledak di langit, suasananya berubah total. Ribuan orang yang sebelumnya ramai mengobrol tiba-tiba diam serempak, semua mata menengadah ke atas. Hanya terdengar suara “waaa” pelan dari kerumunan setiap kali ada ledakan warna baru yang muncul.

Entah kenapa, di tengah kembang api yang terus meledak silih berganti, aku merasa mataku berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena momen itu terasa begitu besar — ribuan orang asing yang tidak aku kenal, duduk bersama di tepi sungai yang sama, menikmati keindahan yang sama, di negara yang dulunya terasa begitu jauh dan asing buatku.

Hanabi taikai biasanya berlangsung 30 menit sampai 1 jam, dengan puncak di bagian akhir di mana ratusan kembang api diluncurkan beruntun tanpa henti — orang Jepang menyebutnya ōtoroi (大トリ), penutup besar yang selalu paling spektakuler.

Tips Kalau Mau Nonton Hanabi Taikai

Datang lebih awal, minimal 2-3 jam sebelum acara dimulai, karena tempat strategis cepat penuh. Bawa tikar atau alas duduk sendiri, karena rumput atau aspal bisa sangat panas atau kotor. Pakai yukata kalau punya kesempatan — banyak toko yang menyewakan yukata lengkap dengan obi dan sandal geta untuk acara seperti ini, dan rasanya pengalamannya jadi beda banget kalau ikut berpakaian sesuai suasana. Siapkan power bank, karena sinyal HP biasanya penuh sesak dengan ribuan orang yang juga pakai data di area yang sama. Dan jangan buang sampah sembarangan — bawa kantong plastik sendiri untuk sampah, karena tempat sampah biasanya sangat terbatas di area festival.


Bon Odori: Tarian yang Awalnya Aku Tonton, Tapi Akhirnya Aku Ikutan

Selain hanabi, ada satu lagi tradisi musim panas yang tidak kalah berkesan: Bon Odori, tarian tradisional yang diadakan saat periode Obon (pertengahan Agustus, waktu orang Jepang menghormati arwah leluhur).

Awalnya aku hanya berniat menonton dari pinggir. Orang-orang menari mengelilingi yagura (menara kayu tempat musisi dan penabuh drum berada) dengan gerakan yang berulang dan sederhana. Tapi salah satu ibu-ibu lokal menarik tanganku dan mengajak ikut menari, sambil tertawa bilang “gampang, ikutin aja!”

Dan benar, gerakannya memang sederhana — tepuk tangan, putar pergelangan tangan, langkah kecil ke kanan dan kiri. Setelah beberapa putaran, aku sudah bisa ikut tanpa canggung. Momen itu benar-benar terasa seperti diterima jadi bagian dari komunitas, bukan cuma jadi penonton dari luar.


Hal-Hal Kecil Musim Panas yang Aku Jadi Suka

Di luar festival besar, ada juga kebiasaan-kebiasaan kecil musim panas yang lama-lama jadi bagian favoritku.

Suara furin (lonceng angin kecil dari kaca atau logam) yang berdenting pelan setiap kali angin lewat, dipasang banyak orang di jendela atau teras untuk memberi kesan sejuk meski cuma secara psikologis. Kebiasaan minum mugicha (teh barley dingin) yang selalu ada di kulkas rumah orang Jepang selama musim panas — rasanya ringan dan menyegarkan, beda dari es teh manis yang biasa aku minum di Indonesia. Dan suara serangga semi (cicada) yang berdengung keras sepanjang siang, yang awalnya aku kira berisik mengganggu, tapi lama-lama jadi semacam “soundtrack” musim panas yang khas dan justru aku rindukan kalau sudah lewat musimnya.


Kalau Kamu Mau Hadapi Musim Panas Pertama di Jepang

Jangan remehkan panasnya meski kamu dari negara tropis — kelembapannya benar-benar berbeda dan bisa berbahaya kalau diabaikan. Selalu sedia air dan jangan pelit pakai AC. Tapi di sisi lain, jangan sampai melewatkan musim festival karena terlalu fokus menghindari panas. Matsuri dan hanabi taikai adalah salah satu pengalaman budaya paling indah yang bisa kamu dapatkan di Jepang, dan momen itu biasanya hanya datang setahun sekali.

Kalau ada kesempatan, coba pakai yukata minimal sekali, ikut menari Bon Odori meski canggung di awal, dan duduk diam menikmati kembang api tanpa buru-buru memotretnya terus-terusan dengan HP. Kadang momen yang paling berkesan justru yang kita nikmati langsung, bukan yang kita rekam.

Musim panas di Jepang mengajarkan aku bahwa ketidaknyamanan fisik dan keindahan budaya bisa berjalan berdampingan. Dan justru karena susahnya menghadapi panasnya, momen sejuk saat festival malam dengan kembang api di langit jadi terasa jauh lebih berharga.

Kalau kamu sudah pernah ke matsuri atau hanabi taikai di Jepang, festival mana yang paling berkesan buat kamu? Atau kalau belum pernah, festival apa yang paling ingin kamu kunjungi? Cerita di komentar, ya!

Category: Lifestyle

Welcome to Minikurage!

  • Blog
  • Lifestyle
  • Travel
  • Musim panas pertama di Jepang
  • Hal-Hal Aneh yang Baru Aku Sadari Setelah Lama Tinggal di Jepang
  • Tentang INFJ
  • Biaya Hidup di Jepang
  • Cara Menghemat Biaya Hidup di Jepang
© 2026 Uneg uneg | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme